PALEMBANG, staging.sriwijayaterkini.co/ – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumatera Selatan menyatakan kinerja Industri Jasa Keuangan (IJK) di wilayah Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) sepanjang tahun 2025 masih cukup terjaga dan stabil.
Wilayah Sumbagsel meliputi Provinsi Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Jambi, Lampung, dan Bengkulu.
Stabilitas tersebut tercermin dari kinerja sektor perbankan, pasar modal, serta industri keuangan nonbank (IKNB) yang tetap tumbuh positif.
Selain itu, penguatan literasi dan pelindungan konsumen juga menjadi faktor pendukung utama menjaga ketahanan sektor jasa keuangan di wilayah tersebut.
Per November 2025, kinerja perbankan di Sumbagsel menunjukkan pertumbuhan yang cukup solid. Total aset perbankan tercatat meningkat sebesar 6,13 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp369,95 triliun.
Fungsi intermediasi perbankan juga terus berjalan dengan baik, tercermin dari penyaluran kredit atau pembiayaan yang tumbuh 5,29 persen (yoy) menjadi Rp322,88 triliun.
Penyaluran kredit tersebut masih didominasi oleh kredit konsumtif dengan porsi 43,59 persen. Dari sisi kualitas, kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) net tetap terjaga di level rendah, yakni 1,01 persen.
Sementara itu, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) turut meningkat 6,79 persen (yoy) menjadi Rp292,43 triliun, dengan dominasi dana tabungan sebesar 55,54 persen.
Berdasarkan sektor ekonomi, penyaluran kredit per November 2025 masih didominasi oleh sektor rumah tangga yang mencapai Rp122,89 triliun, tumbuh 8,60 persen (yoy) dan memiliki market share 6,22 persen dari kredit nasional pada sektor yang sama.
Namun, pertumbuhan tertinggi tercatat pada sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yang meningkat 10,35 persen menjadi Rp61,60 triliun.
Dalam mendukung permodalan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), penyaluran kredit UMKM di Sumbagsel mencapai Rp123,34 triliun atau 38,20 persen dari total kredit. Angka ini tumbuh 2,75 persen (yoy) dan telah melampaui target minimal porsi penyaluran kredit UMKM sebesar 30 persen.
Di sektor pasar modal, jumlah Single Investor Identification (SID) di Sumbagsel per November 2025 tercatat sebanyak 1.346.817 investor, meningkat signifikan 41,43 persen (yoy). Investor didominasi pengguna instrumen reksa dana sebesar 94,51 persen.
Sebaran investor terbesar berada di Sumatera Selatan (39,25 persen), disusul Lampung (32,73 persen), Jambi (14,36 persen), Bengkulu (7,32 persen), dan Kepulauan Bangka Belitung (6,35 persen).
Sejalan dengan kinerja pasar saham nasional, rata-rata nilai transaksi saham di Sumbagsel pada November 2025 tumbuh 56,22 persen (yoy) menjadi Rp13,73 triliun. Penjualan reksa dana juga melonjak 96,05 persen (yoy) menjadi Rp873,02 miliar.
Pada sektor IKNB, nilai piutang pembiayaan per Oktober 2025 mencapai Rp42,17 triliun, tumbuh 1,82 persen (yoy). Jumlah kontrak pembiayaan meningkat tajam 70,51 persen menjadi 11,61 juta unit, dengan rasio Non Performing Financing (NPF) yang tetap terjaga di bawah 5 persen.
Dari sisi pelindungan konsumen, OJK menerima 3.793 pengaduan masyarakat di wilayah Sumbagsel hingga Desember 2025, mayoritas berasal dari sektor IKNB. Tingkat penyelesaian pengaduan mencapai 79,99 persen, termasuk melalui Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa (LAPS).
Untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan, sepanjang 2025 telah dilaksanakan 1.308 kegiatan edukasi keuangan yang menjangkau 192.390 peserta, bersinergi dengan berbagai pihak melalui peran Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD).
