News

Magazine WP Theme

Ditpolairud Polda Sumsel Inovatif Olah Eceng Gondok Jadi Pupuk Organik Bernilai Ekonomis

PALEMBANG, staging.sriwijayaterkini.co/ – Direktorat Polisi Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda Sumatera Selatan terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung ketahanan pangan dan pelestarian lingkungan melalui inovasi pengolahan eceng gondok menjadi pupuk organik bernilai ekonomis.

Tanaman air yang selama ini dikenal sebagai gulma perusak ekosistem perairan tersebut kini disulap menjadi produk ramah lingkungan yang bermanfaat bagi sektor pertanian dan peternakan.

Pupuk organik berbahan dasar eceng gondok ini saat ini telah melalui tahap uji coba pada berbagai jenis tanaman berumur panen pendek. Direktur Ditpolairud Polda Sumsel, Kombes Pol Sonny Mahar Budi Adityawan, mengatakan bahwa pupuk tersebut telah diaplikasikan pada tanaman jagung serta berbagai jenis sayuran dan buah.

“Pupuk organik eceng gondok sudah kami terapkan pada tanaman jagung, bayam, kangkung, kacang panjang, kacang tanah, serta tanaman buah seperti melon dan semangka,” ujar Sonny saat dikonfirmasi, Jumat (12/12/2025).

[irp]

Menurut Sonny, hasil uji coba awal menunjukkan respons tanaman yang cukup baik. Bahkan, pihaknya menargetkan panen jagung perdana menggunakan pupuk organik eceng gondok tersebut akan dilaksanakan pada akhir Desember 2025 atau awal Januari 2026 mendatang di Kabupaten Ogan Ilir.

“Insya Allah pada akhir Desember atau awal Januari mendatang kami akan melaksanakan panen jagung perdana menggunakan pupuk organik eceng gondok di Kabupaten Ogan Ilir,” katanya.

Tak hanya untuk sektor pertanian, inovasi pupuk berbahan dasar eceng gondok ini juga memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan sebagai campuran pakan ternak organik. Sonny menjelaskan bahwa pupuk tersebut dapat digunakan untuk mendukung pakan ayam, ikan, hingga kambing, sehingga memberikan nilai tambah bagi peternak.

Keunggulan pupuk organik eceng gondok, lanjut Sonny, terletak pada harganya yang lebih terjangkau dibandingkan pupuk kimia serta sifatnya yang tidak merusak unsur hara tanah. Selain itu, penggunaan pupuk organik juga mendukung konsep pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan.

“Pupuk ini sudah kami uji coba pada petani mitra binaan Polri, dan hasilnya cukup menjanjikan. Tanaman tumbuh lebih sehat, dan struktur tanah tetap terjaga,” jelasnya.

[irp]

Selama ini, eceng gondok dikenal sebagai tanaman pengganggu yang dapat merusak ekosistem perairan, menghambat aliran air, dan menurunkan kualitas lingkungan. Namun, melalui inovasi ini, eceng gondok justru memiliki nilai ekonomis baru.

Hasil pengecekan menunjukkan bahwa batang dan daun eceng gondok mengandung unsur kalium dan zinc yang bermanfaat untuk meningkatkan kesuburan tanah.

Ditpolairud Polda Sumsel memanfaatkan eceng gondok yang melimpah di sejumlah perairan, salah satunya di kawasan Pangkalan Sandar Upang, Kabupaten Banyuasin.

Tanaman tersebut diolah menjadi pupuk kompos maupun pupuk organik cair (POC). Proses pembuatannya pun relatif sederhana, dengan memanfaatkan limbah organik rumah tangga yang difermentasi, sehingga mudah diaplikasikan oleh petani secara mandiri.

Inovasi ini mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak, termasuk anggota Komisi IV DPR RI. Anggota Komisi IV DPR RI, Rajiv, menilai langkah yang dilakukan Ditpolairud Polda Sumsel sebagai solusi cerdas yang mampu mengatasi persoalan lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

[irp]

“Ini adalah terobosan yang mengubah masalah ekosistem menjadi sumber daya bernilai ekonomi. Jika dikembangkan secara masif, ini bisa menjadi solusi nasional,” ujarnya.

Sebagai bentuk penguatan berbasis ilmiah, Ditpolairud Polda Sumsel juga menggandeng Universitas Sriwijaya (Unsri) untuk melakukan pengujian lebih lanjut terkait efektivitas dan kandungan pupuk organik eceng gondok tersebut. Inisiatif ini diharapkan dapat menjadi model pertanian berkelanjutan sekaligus solusi pengendalian gulma perairan di Sumatera Selatan.(Yulie)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *